Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas.
"Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo," tutur Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (7/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan," ujar Tirta.
Agus mengungkapkan, kenaikan itu dipicu oleh beberapa faktor diantaranya, kenaikan penerimaan valuta asing dari industri minyak dan gas (migas) dan aliran modal masuk (capital inflow).
"Kita kan tahu, inflow kita sampai akhir Februari itu sampai Rp26 triliun," jelasnya. (gir)