Direktur Keuangan Adhi Karya Haris Gunawan menjelaskan, sebagian penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan proyek light rail transit (LRT) sebelum mendapatkan dana dari investor PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).
“Kami kontraktor, kalau kontraktor kan dibayar. Nah dibayarnya sama KAI yang masih proses, tapi kan pembangunan tidak bisa dihentikan jadi kami butuh dana untuk terus melanjutkan proyek ini dulu sampai nanti ada pembayaran," papar Haris, dikutip Sabtu (11/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sebelumnya Adhi Karya telah mendapatkan dana Rp1,4 triliun melalui penyertaan modal negara (PMN).
Dengan demikian, Adhi Karya akan menggunakan Rp1,84 triliun dari obligasi untuk mendukung pembangunan proyek LRT. Kemudian, sisanya Rp2,76 triliun akan dipenuhi oleh pinjaman perbankan.
Sementara, Adhi Karya belum mendapatkan pembiayaan dari perbankan. Saat ini, jelas Haris, pihaknya tengah melakukan penjajakan dengan tiga bank yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).
Namun, pinjaman perbankan ini nantinya bukan sepenuhnya untuk Adhi Karya. Pinjaman tersebut bisa terbagi juga untuk KAI. Sebelumnya, Bank BNI mengaku siap untuk memberikan pembiayaan sebesar Rp6 triliun.
Sebagai informasi, pemerintah telah membuat skema pembiayaan LRT di mana 67 persen akan dilakukan dengan pinjaman perbankan, dan sisanya 33 persen berasal dari KAI. Sementara, total dana prasarana untuk proyek LRT sendiri sebesar Rp23,3 triliun.