Kepala Ekonom Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menyatakan, data Bloomberg mencatat, probabilitas kenaikan suku bunga AS sudah 100 persen. Saat ini suku bunga AS berada pada posisi 0,75 persen. Kondisi perekonomian Amerika Serikat sudah membaik, tingkat pengangguran terus menurun dan upah terus meningkat.
Klaim pengangguran naik 20 ribu pada pekan yang berakhir 4 Maret lalu menjadi 243 ribu. Klaim pada pekan sebelumnya tercatat sebesar 223 ribu, merupakan terendah sejak 1973. Data tersebut menunjukkan pekan ke 105 secara berturut-turut angka klaim tetap berada di bawah 300 ribu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Donald Trump. (REUTERS/Jim Lo Scalzo/Pool) |
Optimisme perekonomian AS terus membaik juga terkait dengan target inflasi yang ditetapkan Fed. Personal Consumption Expenditures price indeks, ukuran inflasi yang dipakai Fed sudah mencapai 1,9 persen pada akhir Januari lalu dibandingkan dengan Januari sebelumnya. Fed menetapkan target 2 persen untuk inflasi.
Hal itu masih ditambah lagi dengan rencana pemerintahan baru Donald Trump yang berjanji akan memangkas pajak serta menganggarkan belanja infrastruktur sebesar US$1 triliun selama lima tahun ke depan. Perkembangan ekonomi AS akan membuat kurs dolar AS menguat terhadap mata uang lain termasuk rupiah.
“Secara teoretis, kenaikan suku bunga akan membuat harga obligasi menurun atau yield obligasi meningkat. Kenaikan suku bunga ini juga akan berimbas pada yield obligasi 10 tahun AS atau T-bond yang biasa dijadikan acuan,” ungkap Budi.
Kesempatan Investor Domestik
Pekan lalu, yield T-bond 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 2,583 persen setelah sempat menyentuh 2,589 persen yang merupakan posisi tertinggi sejak 20 Desember. Kenaikan yield membuat harga obligasi menurun. Pergerakan yield obligasi AS juga mempengaruhi yield obligasi domestik.
Selisih antara yield obligasi AS dengan yield obligasi Indonesia sekitar 500 basis poin. Saat ini, rata-rata yield untuk surat utang negara bertenor 10 tahun berada pada kisaran 7,64 persen.
Budi menjelaskan, secara global daya tarik obligasi negara akan menurun bila yield obligasi AS naik. Investor akan lebih memilih berinvestasi pada pasar negara maju. Salah satu faktor peluang yang dapat menarik investor asing adalah peluang Indonesia mendapatkan peningkatan peringkat Mei mendatang juga tata kelola pemerintahan yang lebih baik.
Dengan mengasumsikan pada akhir tahun yield obligasi AS 2,55 persen, kurs rupiah Rp 13.500 per dolar AS, CDS Indonesia 150 dan yield SUN 10 tahun 7,9 persen dan rata-rata inflasi 5,64 persen, yield obligasi pemerintah masih menguntungkan.
Kenaikan suku bunga AS tetap memberikan peluang kepada para investor domestik, khususnya pada pasar surat utang. Jika diasumsikan nilai tukar rupiah stabil di kisaran Rp13.300-13.600 per dolar AS sementara US T Bond sebesar 2,75 persen dan tingkat inflasi 4 persen, maka estimasi yield pada akhir tahun diprediksi berada di level 7,25 persen dengan return investasi 10 persen-11 persen.
Donald Trump. (REUTERS/Jim Lo Scalzo/Pool)