Berdasarkan data KPK, tingkat kepatuhan kewajiban LHKPN di lingkungan Kementerian Keuangan sudah mencapai 99,43 persen, dari 29.806 pejabat Kementerian Keuangan yang diwajibkan melapor masih terdapat 163 pegawai yang belum menyampaikan LHKPN formulir A kepada KPK.
Sementara untuk keperluan kelengkapan formulir B, tingkat kepatuhan baru mencapai 85 persen atau baru 4 ribu orang yang menjalankan kewajibannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat kenyataan itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu meminta Sekretaris Jenderal Kemenkeu Hadiyanto dan Irjen Kemenkeu Sumiyati untuk mengusut 163 nama pegawai yang tak kunjung menyerahkan laporan harta kekayaannya.
"Saya minta Pak Hadiyanto dan Bu Sum siapa itu yang 163, kalau dia mutasi, promosi saya bisa maklumi. Saya minta posisisnya dimana. Katanya ada mutasi, promosi, jadi diberi waktu 2 bulan."
"Tapi kalau yang tidak patuh, padahal sudah ada di posisi, tolong beri peringatan, saya sudah ingatkan September lalu, kalau tidak, ya beri nilai merah. Tidak usah dipromosikan lagi, kalau perlu ganti saja sampai dia bisa lapor dengan benar," tegasnya.
Sistem ini memperkenankan para pejabat negara menyampaikan dan mengupdate laporan harta kekayaannya melalui formulir elektronik seperti pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak.
"Saya tidak menganggap ada sesuatu berbeda. Jadi saya harap kita bisa duduk bersama. Aplikasi LHKPN bisa dipelajari, jadi SPT bisa, jadi pejabat tidak keberatan," jelasnya.