Direktur Utama PHE Gunung Sardjono Hadi mengatakan, awalnya perusahaan mengira proses pelepasan delapan blok bakal lancar. Namun, mitra perusahaan di WK migas non-konvensional memaksa untuk meneruskan proyek tersebut. Sehingga, PHE membutuhkan waktu untuk bernegosiasi dengan mitra-mitranya dalam menggarap blok yang dimaksud.
Sebagai informasi, delapan blok CBM yang dilepas, antara lain Sangatta I yang bermitra dengan Sangatta West CBM Inc, Sangatta II yang bermitra dengan PT Visi Multi Artha, Tanjung Enim yang bemitra dengan PT Bukit Asam dan Arrow Energy Ltd. Australia, Muara Enim yang bermitra dengan PT Trisula CBM Energi, dan Muara Enim I yang bermitra dengan konsorsium KP SGH Batubara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, mitra-mitra PHE sebelumnya telah menyarankan metode pengeboran yang lebih efisien untuk menggarap beberapa blok tersebut. Namun, perusahaan perlu mengkaji lagi teknik pengeboran tersebut. Pasalnya, bukan tidak mungkin teknik yang digunakan tak sesuai dengan standar pengeboran yang diterapkan sang induk usaha.
Jika memang teknik ini bisa dilakukan, perusahaan kemudian akan membandingkan nilainya dengan penalti yang perlu dibayar ke pemerintah karena tidak jadi meneruskan komitmen pengembangan lapangan migas non-konvensional. Jika memang nilai penalti lebih rendah, tentu saja perusahaan sudah siap melepas delapan blok gas CBM itu.
"Tetapi, kami masih perlu diskusi dengan pemerintah. Karena sistem pembayaran penaltinya pun masih belum jelas. Ini kan hal baru," terang Gunung.
Berangkat dari kasus ini, ia berharap, pemerintah bisa memberikan syarat dan ketentuan pengembangan lapangan gas non konvensional yang bisa memicu biaya lebih efisien. Apalagi, karakteristik lapangan CBM di Indonesia sangat kecil, yaitu hanya bisa menghasilkan gas 0,003 MMSCFD.
Angka ini jauh lebih rendah dibanding lapangan-lapangan CBM di Australia yang bisa menghasilan gas sebesar 0,3 hingga 0,5 MMSCFD. "Memang, komunitas CBM berharap ada perubahan syarat dan ketentuan, sehingga bisa terjadi cost reduction dan menarik minat investor," pungkasnya.
Sebagai informasi, PHE berpartisipasi di 14 WK blok CBM dan 2 WK migas non konvensional (MNK). Dari 14 blok CBM, 8 diantaranya dioperatori langsung oleh PHE.