Gubernur The Fed Janet Yellen mengatakan, kenaikan suku bunga AS untuk mereflesikan pemulihan ekonomi AS karena bursa tenaga kerja menguat dan inflasi meningkat sesuai ekspektasi.
"Mengingat, realisasi dan ekspektasi kondisi-kondisi tenaga kerja dan inflasi, bank sentral memutuskan menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 0,75-1 persen," ujarnya, mengutip Reuters, Kamis (16/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setidaknya, bakal ada kenaikan Fed Rate secara bertahap untuk merefleksikan perbaikan terhadap perekonomian AS. "Ini merupakan pengingat bahwa inflasi dua persen adalah target," terang Yellen.
Brent Schutte, Kepala Strategi Investasi Northwestern Mutual Wealth Management Company menyebutkan, bank sentral AS, melalui kebijakannya ingin memastikan bahwa pemulihan ekonomi AS yang terjadi untuk jangka panjang.
Menurutnya, bank sentral AS sekaligus ingin memberikan kelonggaran di masa yang akan datang agar inflasi bisa merangkak sesuai ekspektasi. "Keputusan The Fed sangat hati-hati. Mereka ingin mencegah pengetatan pasar keuangan," imbuh Schutte.
Dolar AS Melemah
Setelah The Fed memutuskan menaikkan Fed Rate, kurs dolar AS loyo terhadap mata uang utama lainnya. Indeks dolar AS turun 0,65 persen menjadi 101,040 pada akhir perdagangan Rabu (15/3).
Euro naik menjadi 1,0683 per dolar AS dan Poundsterling meningkat menjadi 1,2261 per dolar AS. Sementara, dolar Australia naik menjadi 0,7657 per dolar AS.
Para analis mengatakan bahwa sejak kenaikan suku bunga secara luas telah diperkirakan oleh pasar, investor telah mengambil langkah antisipasi dan berhati-hati untuk kenaikan suku bunga berikutnya tahun ini, mengingat ketidakpastian kebijakan fiskal pemerintahan Donald Trump.