Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, dikutip Selasa (21/3), laba perusahaan mengalami pertumbuhan sebesar 9,23 persen dibandingkan dengan tahun 2015 Rp5,85 triliun.
Peningkatan laba bersih ini ditunjang oleh kenaikan penjualan perusahaan sepanjang tahun lalu sebesar 9,79 persen menjadi Rp40,05 triliun dari posisi sebelumnya Rp36,48 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan di atas perkiraan kami yang hanya tumbuh 4 hingga 5 persen," ungkap Reza dalam risetnya, dikutip Selasa (21/3).
Selain itu, pemasukan perusahaan juga bertambah dari penghasilan lain-lain Rp951 juta. Capaian ini berbanding terbalik dengan tahun 2015 yang tercatat beban lain-lain sebesar Rp4,47 miliar.
Namun demikian, perusahaan menanggung beban pajak penghasilan sebesar Rp2,18 triliun, naik 10,65 persen dari sebelumnya yang hanya Rp1,97 triliun.
Sementara, jumlah liabilitas perusahaan hingga akhir tahun lalu tercatat sebesar Rp12,04 triliun. Di mana jumlah liabilitas jangka pendek sebesar Rp10,87 triliun, sedangkan liabilitas jangka panjang Rp1,16 triliun.
Selanjutnya, Reza menilai, cara perusahaan dalam menyediakan beberapa brand dari satu produk terbilang cukup efektif dan berimbas positif pada kinerja perusahaan.
"Misalnya, produk perawatan tubuh jenis shampoo, perusahaan memiliki brand Sunsilk, Lifebouy, TREsemme, dan Clear," imbuh Reza.
Untuk tantangan ke depannya, lanjut Reza, perusahaan perlu menciptakan berbagai jenis varian dan diversifikasi produk pada tahun ini. Selain itu, Unilever Indonesia juga perlu menjaga loyalitas konsumennya untuk tetap menjaga kinerja perusahaan tumbuh positif.