Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo Chaves mengatakan, sebagian pendanaan ini akan mendukung skema Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) milik pemerintah dengan sasaran pemilik rumah pertama yang berpendapatan rendah.
"Skema tersebut memberi bantuan uang muka (down payment) sesuai dengan jumlah tabungan penerima bantuan, juga cicilan sesuai standar pasar yang diberikan oleh institusi peminjam yang berpartisipasi dalam program ini," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (21/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Memberikan keluarga Indonesia akses rumah yang terjangkau merupakan hal penting untuk meningkatkan pemerataan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan. Perumahan yang lebih baik telah terbukti membawa dampak positif terhadap capaian kesehatan masyarakat, pendidikan dan tenaga kerja,” kata Rodrigo.
Pendanaan ini juga dinilai akan mendukung pemerintah untuk memajukan kebijakan dan reformasi institusi yang bertujuan memperkuat fondasi pasar perumahan.
Program ini akan dijalankan melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan memberi fokus mengatasi kurangnya persediaan rumah serta kualitas rumah yang rendah di wilayah perkotaan yang tumbuh pesat.
Lebih lanjut, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT), memberi pendanaan untuk persiapan pinjaman ini melalui Indonesia Infrastructure Support Trust Fund (INIS).
Sebagai catatan, per akhir Februari 2017, Bank Dunia merupakan kreditur lembaga internasional terbesar bagi Indonesia. Tercatat, pinjaman Bank Dunia mencapai Rp235,31 triliun atau 6,56 persen dari total keseluruhan utang pemerintah yang mencapai Rp3.589,12 triliun.