"Kita masih melihat momentum pertumbuhan ekonomi di atas 5,1 persen yakni 5,2 persen bahkan 5,3 persen, dengan catatan eksternalnya tidak negatif lagi. Asalkan ekspor nol saja, atau mendekati dekati 0,5 persen saja growth-nya. Jangan negatif," tutur Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung DPR, Kamis (23/3).
Keyakinan mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini berdasar pada kinerja sumber pertumbuhan ekonomi domestik yang masih positif, dalam hal ini konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah. Sri Mulyani mengungkapkan konsumsi rumah tangga tahun ini masih bisa tumbuh sekitar 5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi investasi, pertumbuhannya tahun in diharapkan bisa mencapai 6 persen. Hal itu diupayakan pemerintah dengan cara mempermudah investasi di Indonesia.
Sementara, kinerja sektor perdagangan internasional Indonesia bergantung pada perkembangan perekonomian global.
"Kalau growth ekonomi dunia sekitar 3,2 persen, tidak mungkin pertumbuhan ekspornya tiba-tiba melonjak sampai 15 persen untuk Indonesia," ujarnya.
Untungnya, impor yang anjlok lebih dalam membuat neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus. Pada tahun 2014, pertumbuhan impor bisa mencapai 2,1 persen. Setelah itu, pada tahun 2015 pertumbuhan impor anjlok menjadi minus 6,4 persen dan tahun lalu minus 2,3 persen.
Kemarin, Bank Dunia meramal tahun ini ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,2 persen. Prediksi itu lebih rendah dari prediksi yang dibuat pada Januari 2017 yaitu sebesar 5,3 persen.