Febriany Eddy, Direktur Keuangan Vale Indonesia menjelaskan, pembagian dividen biasanya diukur oleh berbagai faktor seperti seperti ketersediaan arus kas dan laba bersih.
"Nah kalau dilihat kan laba bersih kami pada 2016 sebesar US$1,9 juta, relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," ungkap Febriany, Senin (27/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi dengan faktor demikian, sulit bagi kami untuk membayar dividen," imbuhnya.
"Tentu karena bisnis kami sangat terpengaruh dengan harga nikel ya, karena sebenarnya biaya produksi kami turun 18 persen. Tapi karena harga nikel turun 19 persen jadi laba bersih kami sekian," papar dia.
Mengacu pada London Metal Exchange (LME), harga tunai nikel pada awal tahun lalu sebesar US$8.515 per ton dan kemudian turun menjadi US$7.700 per ton pada Februari.
Namun kemudian, harga nikel mulai pulih ke level US$9.100 per ton pada bulan April dan bertahan di level US$8.500 per ton hingga awal Juni 2016. Selanjutnya, harga nikel naik menjadi US$10.300 pada Juli, dan pada akhir tahun berada di kisaran US$9.900-US$11.600 per ton.
Sementara itu, perusahaan juga secara resmi mengganti jajaran dewan komisaris perusahaan. Dalam hal ini, Mike Baril diangkat menjadi komisaris untuk menggantikan Stuart Alan Harshaw. Selain itu, perusahaan juga mengganti komisaris independen menjadi R. Sukhyar, di mana sebelumnya jabatan tersebut diduduki oleh Idrus Paturusi.
Berikut jajaran dewan komisaris yang baru setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST):
Presiden Komisaris: Jennifer Anne Maki
Wakil Presiden Komisaris: Mark James Travers
Komisaris: Andrea Marques de Almeida, Mike Baril, Robert Alan Morris, Nobuhiro Matsumoto, dan Akira Nozaki
Komisaris Independen: Irwandy Arif, Mahendra Siregar, dan R. Sukhyar