CEO Citibank Indonesia Batara Sianturi menjelaskan, penyaluran kredit tahun lalu hanya tumbuh tipis menjadi Rp38,91 triliun dari tahun 2015 sebesar Rp38,75 triliun.
Menurutnya, hal ini disebabkan karena permintaan kredit yang belum memadai karena adanya ketidakpastian dari sisi global sendiri misalnya, rencana kenaikan suku bunga The Fed. Seperti diketahui, sejak dari tahun lalu The Fed mengumumkan rencananya untuk menaikan suku bunganya lebih dari dua kali tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harapkan pada semester kedua tahun ini naik, akan mulai sedikit demi sedikit karena The Fed menaikan suku bunga," ungkap Batara, Rabu (29/3).
"Dana-dana itu kan bisa bergulir ke proyek infrastruktur, jadi dana untuk infrastruktur tidak terlambat lagi. Kemudian, harga komoditas juga naik," jelas Batara.
Dengan beberapa katalis tersebut, Batara optimis tidak hanya kredit yang akan tumbuh, tetapi juga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat mencapai 5.900 pada akhir tahun ini.
Sementara itu, kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross sepanjang tahun lalu berada di posisi 2,83 persen dan NPL nett 0,94 persen. Untuk tahun ini sendiri, Batara menargetkan NPL gross Citibank Indonesia dapat bertahan dibawah tiga persen, sedangkan NPL nett berada dibawah satu persen.
Menurutnya, pertumbuhan kredit akan lebih banyak dari kredit korporasi. Batara menargetkan, kredit korporasi mencapai tiga digit, sedangkan komersial hanya satu digit.
Selain itu, perusahaan juga menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit untuk perusahaan yang mendukung proyek infrastruktur seperti, perusahaan semen. Sehingga, Citibank Indonesia tidak secara langsung memberikan kredit pada proyek infrastruktur.
"Jadi tidak langsung, kami lewat perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan infrastruktur," tutup Batara.