Hal itu terlihat dari porsi investor peminat sukuk global 2017, yang baru diterbitkan pemerintah Indonesia pada 22 Maret lalu.
Sebelumnya, tahun ini, pemerintah menerbitkan sukuk global senilai US$3 miliar yang terdiri dari dua tenor yaitu lima tahun senilai US$1 miliar dan 10 tahun senilai US$2 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk sukuk global bertenor 10 tahun, kontribusi investor AS mencapai 29 persen atau sekitar US$580 juta. Tahun lalu, porsi investor asal negeri Paman Sam hanya 15 persen atau sekitar US$262,5 juta.
"Mereka (investor AS) yakin kualitas [sukuk global] sama dengan yang konvensional," tutur Robert dalam konferensi pers di Gedung Djuanda I Kemenkeu, Kamis (30/3).
Selain itu, dunia juga sudah mengakui sukuk global terbitan pemerintah Indonesia karena telah masuk dalam Emerging Market Index.
Investor Timur Tengah Turun
Di sisi lain, porsi investor asal Timur Tengah menurun. Untuk sukuk global bertenor lima tahun, porsi investor negara Islami (termasuk Timur Tengah) mencapai 28 persen, anjlok dari seri suku global tahun lalu 42 persen.
Sedangkan untuk seri sukuk global bertenor 10 tahun, porsi investor negara Islami mencapai 29 persen atau naik tipis dari seri tahun lalu, 28 persen.
Menurut Robert, turunnya porsi investor asal Timur Tengah dipengaruhi oleh anjloknya harga minyak sehingga dana yang tersedia untuk diinvestasikan menurun.
Berdasarkan informasi yang diterima dari investor, saat ini investor Timur Tengah lebih senang berinvestasi di surat utang jangka pendek sampai harga komoditas dan minyak kembali stabil.