Dengan demikian, angka penjualan listrik sepanjang kuartal I tahun ini tercatat 53,2 Terrawatt-Hour (TWh) atau meningkat 1,25 TWh dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar 51,96 TWh.
Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati mengungkapkan, melemahnya pertumbuhan penjualan listrik ini disebabkan oleh melemahnya pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, angka pertumbuhan penjualan listrik selalu 1,3 kali lipat lebih besar dibanding pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati. (CNN Indonesia/Galih Gumelar) |
Ia melanjutkan, perlambatan konsumsi ini sebagian besar disebabkan oleh penurunan permintaan dari pulau Jawa. Pasalnya, laju pertumbuhan listrik di Jawa masih mengikuti tren, di mana angkanya lebih rendah dibanding rata-rata nasional.
"Kalau untuk di Jawa, memang sebagian besar permintaan itu dari industri. Jadi, memang konsumsi dari industri ini perlu didorong. Dulu di tahun 2015, kami pernah mengalami pertumbuhan konsumsi listrik sebesar 2,1 persen meski pertumbuhan ekonominya mencapai 4,7 persen gara-gara industri di Jawa banyak yang tutup," terangnya.
Nicke menambahkan, penurunan permintaan itu juga terlihat dari utilisasi pembangkit listrik yang menurun. Menurut catatannya, saat ini hanya 54 persen listrik saja yang berhasil terjual dari total kapasitas pembangkit listrik terpasang sebesar 51,86 Gigawatt (GW).
Tak Ubah Target
Kendati demikian, PLN memasang target penjualan listrik sebesar 6,5 persen di tahun ini, atau sama dengan realisasi tahun lalu. Ini dikarenakan asumsi pertumbuhan ekonomi yang digunakan sebesar 5,1 persen pada tahun ini, atau meningkat tipis dibanding tahun lalu 5,02 persen.
"Penjualan listrik harus tetap didorong. Jika tahun lalu pertumbuhan penjualannya 6,5 persen, maka tahun ini harusnya sama di angka 6,5 persen juga," jelasnya.
Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, rata-rata pertumbuhan penjualan listrik selama 10 tahun ke depan adalah 8,3 persen. Pertumbuhan tertinggi disumbang dari golongan bisnis sebesar 9,5 persen, sementara pertumbuhan terendah akan disumbang dari sektor publik dan rumah tangga sebesar 8,6 persen.
Hingga akhir 2016, penjualan listrik PLN tercatat 216 TWh atau meningkat 6,5 persen jika dibanding penjualan tahun sebelumnya 202,8 TWh.
Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)