Presiden Komisaris Astra Agro Widya Wiryawan menyatakan, ekspor sawit yang dilakukan Astra Agro ke Eropa selama ini terbilang kecil. Sehingga, hal itu tidak akan berpengaruh signifikan dengan penjualan perusahaan ke depannya.
"Kami akan cari pasar lain. Kami fokus di Asia saja, pasarnya memiliki pertumbuhan besar. Iran belum tersentuh, daya belinya lumayan," ucap Widya, dikutip Rabu (12/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu perang dagang, karena sawit sendiri paling efisien diantara minyak nabati lainnya," imbuhnya.
"Kalau tidak bisa ekspor, rupiah akan turun karena devisa berkurang," terangnya.
Sekadar informasi, resolusi terkait sawit tersebut diloloskan oleh Parlemen Eropa pada awal April ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut, dewan negara-negara penghasil kelapa sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) akan mengirimkan utusan misi gabungan ke Parlemen Eropa bulan depan.
"CPOPC akan mempersiapkan misi gabungan ke Uni Eropa pada Mei 2017 untuk menyampaikan perspektif negara produsen pada institusi yang berkompeten di Uni Eropa," jelas Darmin, secara terpisah.
Resolusi itu sendiri berisi tentang kelapa sawit yang dianggap merusak lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati, serta mengabaikan isu kesehatan.