Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso mengatakan, belanja modal tersebut akan dialokasikan bagi pembangunan jaringan transmisi baru sepanjang 25 ribu kilometer (km).
Di samping itu, belanja modal juga akan dialokasikan untuk membangun sarana distribusi berbentuk virtual pipeline, di mana suplai gas bisa disediakan secara fleksibel tanpa menggunakan pipa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menuturkan, infrastruktur yang mumpuni dibutuhkan karena volume kebutuhan gas alam di tahun 2025 akan mencapai dua kali lipat dibanding tahun 2013. Dengan kata lain, kebutuhan gas alam menurut perkiraan perusahaan bisa mencapai 400 juta ton setara minyak di tahun tersebut.
Hendy juga mengatakan, kebutuhan infrastruktur akan dititikberatkan di Indonesia bagian tengah dan timur, di mana panjang pipa yang dibutuhkan diperkirakan sebesar tiga kali lipat dibanding panjang saat ini. Sayangnya, ia tak menyebutkan angka pasti kebutuhan pipa di dua wilayah tersebut.
Sebagai informasi, panjang pipa PGN hingga akhir 2016 mencapai 7.200 kilometer (km). Angka itu mengambil 78 persen dari total panjang pipa nasional sebesar 9.230 km.
Perusahaan juga menargetkan penambahan pipa sepanjang 1.686 km antara tahun 2016 hingga 2019, sehingga kapasitas pengangkutan bisa bertambah sebesar 1.591 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Penambahan itu nantinya membuat panjang pipa yang dioperatori perusahaan pelat merah tersebut di angka 8.656 km.