Direktur IPW Ali Tranghanda menjelaskan, perumahan dengan segmen kelas menengah ke bawah menjadi penyumbang terbesar dalam penjualan perumahan awal tahun ini. Hal ini disebabkan, masyarakat yang tergolong kelas menengah atas tengah jenuh karena harga properti yang sudah terlalu mahal di kelasnya.
"Properti kelas menengah ke atas dari tahun 2009 sampai 2012 itu naiknya signifikan, bahkan ada yang sampai 50 persen. Jadi sekarang sudah terlalu mahal posisinya," ungkap Ali, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga rumah untuk kelas menengah ke bawah sendiri maksimal sebesar Rp300 juta. Sementara, kelas menengah berkisar Rp300 juta-Rp800 juta. Sehingga, untuk tahun ini properti dengan dua kelas itu akan menjadi primadona sepanjang tahun ini.
Selain karena harga yang sudah terlalu mahal, Ali menilai masyarakat kelas menengah ke atas sendiri telah memiliki banyak aset properti dengan harga selangit. Namun, mereka belum dapat menjual properti miliknya karena pasar di kelas tersebut sedang lesu.
Selanjutnya, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) juga tengah menjadi perhatian investor saat ini. Dengan kata lain, investor menunggu (wait and see) sampai Pilkada selesai.
Ali menyebut, meski rumah dengan kelas menengah ke bawah laris di pasaran khususnya rumah bersubsidi, tetapi banyak masyarakat yang terjebak karena lokasinya yang jauh.
"Ketika rumah jadi, ongkos bolak-balik mahal. Jadi kembali lagi mengontrak di Jakarta," imbuhnya.
"Kalau bangun hunian kelas menengah dan menengah ke bawah harus bangun TOD," tandas Ali.
Saat ini sudah ada beberapa emiten yang membangun properti dengan konsep TOD di antaranya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Sementara, PT PP Property Tbk (PPRO) sedang menjajaki kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia atau KAI untuk sebelum membangun kawasan TOD.