Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita mengatakan hal tersebut berkaitan dengan langkah Parlemen Uni Eropa yang mengeluarkan resolusi soal sawit dan pelarangan biodiesel berbasis sawit karena dinilai masih menciptakan banyak masalah lingkungan.
Menurutnya, resolusi tersebut bakal mengganggu hubungan dagang antara Indonesia dan Uni Eropa. Padahal selama ini pangsa pasar sawit Indonesia dan Malaysia menguasai sekitar 85 persen pasar sawit di dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Enggar menganggap keputusan parlemen Uni Eropa tidak adil lantaran dalam industri minyak nabati di Uni Eropa sendiri, proses produksinya tidak jauh berbeda dengan produksi minyak sawit di Indonesia.
"Kami akan secara aktif menuntut seluruh dunia, seluruh vegetable oil memiliki standar yang sama, pemerintah tidak bermain-main, begitupun dengan pengusaha tidak main-main, untuk itu kami akan hadapi dengan segala akses termasuk menggandeng Malaysia yang mengalami persoalan serupa dengan kita," ucap Enggar.
Ia menambahkan, jangan sampai hasil resolusi ini malah menimbulkan perang dagang. Di mana masing-masing negara melarang masuknya barang dari negara lain.
Sebelumnya Parlemen Uni Eropa menilai, sawit di Indonesia masih menciptakan banyak masalah mulai dari deforestasi, korupsi, pekerja anak-anak, sampai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Indonesia oleh parlemen Uni Eropa bahkan dilarang untuk mengekspor sawit dan biodiesel ke negara lain.