Perbaikan kinerja tersebut seiring upaya perseroan menurunkan kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) sejak tahun lalu. Dampaknya, beban biaya pencadangan yang menimbulkan kerugian perseroan, turun 57 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp670 miliar. Disisi lain, perseroan juga melakukan penjualan aset bermasalah yang turut berkontribusi pada pendapatan.
Direktur Utama Bank Permata Ridha DM Wirakusumah menjelaskan, pihaknya akan terus mengambil langkah-langkah proaktif yang diperlukan untuk mengelola kualitas asetnya melalui restrukturisasi dan rehabilitasi, mempercepat pemulihan kredit, dan menjual sebagian dari portofolio NPL.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun penyaluran kredit Bank Permata pada kuartal pertama tahun ini turun cukup signifikan sebesar 22 persen (yoy) menjadi Rp95,4 triliun. Namun, pembiayaan syariah tercatat masih tumbuh positif yakni dikisaran 4 persen (yoy).
Ridha mengaku pihaknya juga akan terus memperkuat fundamental dan memanfaatkan kekuatan inti perseroan, antara lain jaringan cabang yang luas, saluran distribusi yang komprehensif, serta produk-produk inovatif. Pihaknya juga berencana memperkuat permodalan melalui penerbitan saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.
Saat ini, Bank Permata tengah memproses rights issue sebesar Rp3 triliun yang diharapkan akan selesai pada semester pertama 2017. Adapun pada pertengahan tahun lalu, perseroan juga telah merealisasikan rights issue sebesar Rp5,5 triliun.
"Kami yakin akan kembali ke performa yang semakin kuat pada tahun 2017 sebagaimana kami terus membangun peran kami sebagai agen pembangunan bagi para nasabah kami” pungkasnya.