Direktur RSPO untuk Indonesia Tiur Rumondang mengatakan, setiap negara berhak untuk memproteksi komoditas yang dianggap berkontribusi besar terhadap kegiatan ekspornya. Selain itu, menurutnya, sudah merupakan sikap yang wajar jika pemerintah menolak habis-habisan kebijakan perdagangan internasional yang mengganggu.
"Setiap negara berhak untuk memproteksi komoditasnya masing-masing dan setiap negara punya maksud tersendiri di balik itu. Meski demikian, RSPO tidak memiliki sikap khusus terkait aksi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia," ujar Tiur, Rabu (18/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, saat ini terdapat 1,82 juta hekatre yang sudah disertifikasi RSPO. Sayangnya, angka itu baru 13 hingga 14 persen dari seluruh lahan kelapa sawit di Indonesia.
Direktur RSPO untuk Indonesia Tiur Rumondang (CNN Indonesia/Galih Gumelar) |
Meski demikian, RSPO masih menanti jenis standarisasi tunggal minyak kelapa sawit yang rencananya akan diimplementasikan di Uni Eropa.
"Belum ada klarifikasi soal single certification bagi produk kelapa sawit nantinya, apakah berbentuk Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO), Malaysian Sustainable Palm Oil System (MSPO), atau justru malah ada yang baru? Jujur, kami pun tengah menanti," paparnya.
Sebagai informasi, parlemen Uni Eropa mulai melarang pemakaian biodiesel berbasis CPO mulai 2020 dan akan memberlakukan sertifikasi tunggal bagi kelapa sawit yang tertuang di dalam resolusi Uni Eropa bertajuk Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforests. Resolusi ini diterbitkan untuk menghalau dampak negatif perkebunan seperti deforestasi dan degradasi habitat.
Hingga Februari 2017, produksi kelapa sawit yang sudah menggenggam sertifikasi Certfied Sustainable Palm Oil (CSPO) di seluruh dunia tercatat sebesar 12,22 juta metrik ton. Indonesia sendiri mengambil porsi 57,03 persen dari produksi tersebut, atau 6,97 juta metrik ton.
Direktur RSPO untuk Indonesia Tiur Rumondang (CNN Indonesia/Galih Gumelar)