Kepala BKPM Thomas Lembong menyatakan, raihan tersebut setara dengan 24,4 persen dari target tahun ini sebesar Rp678,8 triliun.
Menurut Thomas, realisasi PMDN tumbuh lebih tinggi jika dibandingkan dengan investasi PMA. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, realisasi PMDN naik 36,4 persen dari Rp50,4 triliun menjadi Rp68,8 triliun. Sementara, PMA hanya tumbuh 0,94 persen menjadi Rp97 triliun dari Rp96,1 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi karena rupiah menguat maka jumlah dalam rupiah kurang lebih stagnan, meski angka dalam dolar naik," ungkapnya, Rabu (26/4).
"Jadi memang sebetulnya masih didominasi di Pulau Jawa itu porsinya 54,6 persen atau sebesar Rp90,5 triliun. Tapi luar Pulau Jawa itu sudah mulai naik," ujar Deputi Bidang Pengendalian Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis, dalam kesempatan yang sama.
Kemudian jika dilihat dari sektor usahanya sendiri, sektor pertambangan memperoleh investasi tertinggi dengan nilai Rp23,6 triliun, kemudian disusul industri makanan sebesar Rp18,5 triliun.
Selanjutnya, transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp18,4 triliun, lalu listrik, gas, dan air Rp16,7 triliun, dan industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik Rp15,2 triliun.
Azhar menjelaskan, dari sisi PMA sendiri, komposisi negara yang melakukan investasi di Indonesia masih sama. Di mana Singapura menjadi yang terbesar dalam mengalirkan dananya ke Indonesia sebesar US$2,1 miliar.
"Ini untuk lima besar masih sama. Tidak banyak perubahan," imbuh Azhar.
Selain Singapura, terdapat negara Jepang yang berinvestasi sebesar US$1,4 miliar, China US$0,6 miliar, Amerika Serikat (AS) US$0,6 miliar, dan Korea Selatan US$0,4 miliar.