Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir menuturkan, saat ini Adaro sudah memiliki pengalaman yang kuat dalam menjalankan usaha logistik batu bara. Apalagi menurutnya, Adaro memiliki sarana logistik energi yang ukurannya tidak main-main.
Ia mencontohkan, perusahaannya memiliki pelabuhan sungai khusus logistik batu bara yang terbesar di Asia yang terletak di Kelanis, Kalimantan Tengah. Garibaldi menuturkan, pelabuhan itu bisa menampung batu bara sebesar 50 juta hingga 52 juta ton per tahunnya. Bahkan menurutnya, fasilitas pelabuhan itu sudah dilengkapi oleh terminal apung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain batu bara, ia juga ingin Adaro Logistics bisa mengangkut gas, baik dalam bentuk gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) atau Liquefied Petroleum Gas (LPG). Selain itu, ia juga berharap anak usaha ini juga mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) di kemudian hari.
Selain memiliki sarana yang mumpuni, usaha logistik tengah ditonjolkan perusahaan karena perkembangannya belum terlalu signifikan apabila dibandingkan lini usaha non-pertambangan lainnya seperti pembangkit listrik dan jasa pertambangan. Apalagi, ia tidak mau Adaro terlalu lama bergantung pada pertambangan batu bara mengingat bisnisnya yang rentan akan pergerakan harga.
"Kami sudah merencanakan ini karena kalau dilihat, sektor logistik ini cukup menarik. Apalagi, kami ingin model keuangan Adaro ke depan lebih stabil, tidak melulu bergantung pada batu bara," jelasnya.
"Dengan diversifikasi komponen pendapatan ini, kami harap profitabilitasnya tetap stabil. Saat ini memang arahnya sudah ke sana. Tapi, tetap saja, dibutuhkan waktu yang juga cukup," tambah David.
Mengutip laporan keuangan perusahaan, pendapatan pada tahun 2016 lalu tercatat US$2,52 miliar atau menurun 5,97 persen dibandingkan periode sebelumnya sebesar US$2,68 miliar. Dari angka tersebut, sebanyak 92,86 persen masih disumbang dari penjualan batu bara.
Meski demikian, perusahaan berhasil mencetak laba sebesar US$381,77 juta, di mana angka ini meningkat tajam 116,43 persen dibanding tahun sebelumnya US$176,39 juta.