Dengan besaran dividen tersebut, Timah sudah tiga tahun berturut-turut memberikan dividen sebanyak 30 persen.
Sebelumnya, pada 2016, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut memberikan dividen sebanyak Rp30,47 miliar atau 30 persen dari Rp101,58 miliar laba bersih di 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), perusahaan kembali menetapkan dividen sebesar 30 persen," ujar Direktur Utama Timah Mochtar Riza Pahlevi usai RUPS Timah, Jumat (28/4).
Pemberian dividen dari laba 2016 ini meningkat bila dibandingkan aliran dividen dari laba 2015, yakni meningkat 147 persen atau Rp101,56 miliar. Menurut Riza, hal ini sejalan dengan terkereknya laba bersih dari total keseluruhan pendapatan yang berhasil dibukukan perusahaan.
Berdasarkan kinerja emiten berkode TINS itu, perusahaan mencatat pendapatan di tahun lalu mencapai Rp6,96 triliun. Angka tersebut terbilang membaik lantaran perusahaan mampu menurunkan beban pokok pendapatan sekitar 5,09 persen menjadi Rp5,87 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp6,19 triliun.
Selain itu, peningkatan pendapatan pada 2016 juga ditopang oleh peningkatan harga timah dunia yang pada kuartal I 2016 masih berada dikisaran US$15.478 per Metrik Ton (MT) meningkat hingga kisaran US$18.000 per MT di akhir tahun lalu. Tak hanya itu, perusahaan juga mengubah strategi pengolahan bisnis dan operasi untuk menurunkan beban sembari mengerek pendapatan.
Ketiga hal tersebut rupanya cukup ampuh mengembangkan pendapatan meski produksi perusahaan yang beroperasi di Provinsi Bangka Belitung (Babel) itu justru melorot. Tercatat, produksi bijih timah pada 2016 hanya 24,12 ribu ton sedangkan di 2015 mencapai 26,36 ribu ton. Sedangkan produksi logam timah merosot dari 27,43 ribu ton menjadi 23,75 ribu ton.
Selain membagikan dividen, RUPS Timah juga mengubah struktur manajemen perusahaan, baik dari jajaran komisaris maupun direksi. Hal ini dilakukan untuk semakin meningkatkan kinerja perusahaan.
Pertama, Timah memberhentikan tiga komisaris, yaitu Erfi Triassunu, Bagas Angkasa, dan Eka Prasojo. Ketiganya digantikan oleh dua komisaris baru, yakni Satriya Hari Prasetya dan T. Pribadi. Sementara, jajaran komisaris yang tetap berada di kursinya, yaitu Komisaris Utama Independen Fachry Ali, Komisaris Independen Milawarma, dan Komisaris Mochtar Husein.
Kedua, dari sisi direksi, Timah memberhentikan Purwijayanto dan mengangkat Trenggono Sutioso sebagai Direktur Pengembangan Usaha dan Niaga serta mengangkat Alwin Albar sebagai Direktur Operasi dan Produksi. Sementara, Mochtar Reza Pahlevi Tabrani tetap menjadi Direktur Utama, Emil Ermindra tetap menjadi Direktur Keuangan, dan Muhammad Rizki tetap menjadi Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum.