Menurut Darmin, optimisme itu terlihat dari capaian inflasi April yang rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi April sebesar 0,09 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian Maret yang berhasil menorehkan deflasi 0,02 persen.
Dengan rendahnya inflasi April, sampai empat bulan pertama di tahun ini, laju inflasi secara tahun kalender (year to date/ytd) baru mencapai 1,28 persen dari target yang juga ditetapkan pemerintah di angka 4 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bersamaan dengan laju inflasi secara tahun kalender yang masih direntang 1,28 persen, Darmin juga menepis kekhawatiran akan bengkaknya kontribusi inflasi dari komponen tingkat harga yang diatur oleh pemerintah (administered price) meski sejak awal tahun, komponen ini terus memberikan tekanan pada inflasi.
Imbasnya, menurut catatan BPS, kenaikan TDL yang berlaku sejak 1 Januari dan 1 Maret lalu memang berhasil mengerek inflasi kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. Bahkan, diproyeksi kembali terkerek pada Mei dan Juni mendatang.
"TDL itu hanya penyesuaian yang 900 VA. Yang lain tidak ada yang naik, yang 900 VA saja yang (kenaikannya) sudah dimulai sejak awal tahun, termasuk yang sekarang ini (tahap ketiga mulai 1 Mei lalu)," jelas Darmin.
Namun begitu, Darmin belum merinci akan prediksinya terkait laju inflasi, setidaknya dalam dua bulan ke depan yang berpotensi mengalami peningkatan karena bertepatan dengan masa puasa dan peringatan Hari Besar Idul Fitri atau Lebaran.
"Kalau melihat yang sudah sering terjadi, selalu ada kenaikan (harga bahan pokok) di bulan puasa dan Lebaran karena permintaan bahan makanan tinggi. Jadi, harus hati-hati saat Lebaran, terutama bulan Juni," kata Ketjuk, sapaan akrabnya.
Hanya saja, Ketjuk menilai, potensi tak terkerek jauhnya laju inflasi masih mungkin terjadi bila komponen gejolak harga pangan (volatile foods) masih mengalami deflasi, seperti yang terjadi dalam dua bulan terakhir, sehingga mampu menetralisir inflasi komponen administered price.