"(Penerimaan) sudah mulai recovery, terutama di April tapi sebenarnya sudah mulai terjadi di Maret," ucap Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi di Kementerian Keuangan, Rabu (3/5).
Berdasarkan catatan DJBC, total penerimaan bea dan cukai sampai 2 Mei 2017 mencapai Rp31,27 triliun atau sekitar 16,35 persen dari total target penerimaan mencapai Rp191,23 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun penerimaan tersebut berasal dari penerimaan bea masuk sebesar Rp10,74 triliun, yang telah memenuhi 31,84 persen dari target sebesar Rp33,73 triliun. Khusus di April, penerimaan bea masuk mencapai Rp3,02 triliun. Sementara, kumulatif penerimaan bea masuk di kuartal I 2017 hanya sebesar Rp7,72 triliun.
"CPO bulan ini (harganya) turun di bawah US$750 per ton sehingga kami tidak bisa tarik bea keluar," kata Heru.
Sementara, sumbangan tertinggi disumbang oleh penerimaan cukai yang mencapai Rp12,91 triliun hanya di bulan lalu saja. Pasalnya, sepanjang Januari-Maret 2017, penerimaan cukai baru mencapai Rp6,9 triliun. Alhasil, pundi penerimaan cukai sudah sekitar 12,6 persen dari target Rp157,15 triliun.
Secara rinci, penerimaan cukai terbesar disumbang oleh cukai hasil tembakau yang melonjak Rp12,32 triliun di April sehingga totalnya sebesar Rp18,22 triliun. Lalu, total cukai etil alkohol sebesar Rp55,73 miliar dari target Rp150 miliar, cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) sebesar Rp1,49 triliun dari target Rp5,5 triliun, dan pendapatan cukai lainnya Rp45,61 miliar dari target Rp1,6 triliun.