Direktur Pemasaran Pertamina M. Iskandar menuturkan, langkah ini diambil sebagai salah satu ekspansi bisnis hilir migas perusahaan. Saat ini, kajian pemasaran tengah disusun, sehingga aksi korporasi ini bisa berjalan di tahun 2018.
"Saat ini kami masih lakukan kajian, kami harapkan tahun depan sudah mulai lakukan penetrasi pasar," ujar Iskandar, Kamis (4/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti, sistem bisnisnya pun akan dikerjasamakan dengan badan usaha di negara-negara setempat. Meski nantinya mitra kami sudah punya nama di sana, kami harus mulai dari awal lagi untuk menggaet pangsa pasar, karena hitungannya kami di sana jadi pemain baru," paparnya.
Di samping itu, perseroan pelat merah ini juga telah mengakuisisi pabrikan pelumas Thailand, AMACO Production Co. Ltd. Dengan kata lain, Pertamina sudah memiliki mitra bisnis yang pasti untuk melebarkan sayap ke Thailand.
"Nantinya, kerja sama ini yang kami pakai untuk masuk ke bisnis ritel BBM. Ini merupakan langkah baru, dan hal ini pun sebelumnya tidak dicantumkan ketika kami menyepakati nota kerja sama bisnis pelumas," paparnya.
"Sampai saat ini belum ada pengumuman dari Myanmar, padahal prosesnya sudah berjalan dua tahun. Kami dengar, karena perubahan pemerintahan, maka mekanismenya juga berubah. Kami tunggu saja," jelasnya.
Saat ini, perseroan melayani penjualan ritel BBM di dalam negeri yang terbagi ke dalam BBM jenis penugasan dan Baha Bakar Khusus (BBK).
Menurut data perseroan, penjualan BBM penugasan sepanjang tahun 2016 tercatat sebesar 23,78 juta kiloliter (kl) atau menurun 11,7 persen dibanding tahun sebelumnya 26,94 juta kl. Sementara itu, penjualan BBK perusahaan melesat 257 persen dari 2,98 juta kl di tahun 2015 ke angka 10,65 juta kl pada tahun berikutnya.