Ketua Umum Asrim Triyono Prijosoesilo mengungkapkan, pertumbuhan industri minuman sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Terlebih, elastisitas permintaan minuman ringan sangat tinggi. Dengan kata lain, pengeluaran masyarakat untuk minuman ringan turun drastis jika daya beli masyarakat kurang darah.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), di mana kontribusi konsumsi masyarakat terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 56,95 persen. Angka ini tercatat susut jika dibandingkan periode yang sama tahun kemarin sebesar 57,7 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, penurunan pertumbuhan ini merata di sub-sektor industri yang terdiri dari Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), minuman berkarbonasi, minuman teh dalam kemasan, dan minuman sari buah. Di antara semua sub-sektor tersebut, pelemahan utama terdapat di minuman berkarbonasi dengan pelemahan sebesar lebih dari 15 persen.
Selain karena daya beli, Triyono menuturkan, lesunya penjualan minuman ringan juga diakibatkan karena buruknya persepsi konsumen akan minuman ringan. Banyak sekali kampanye-kampanye negatif yang berseliweran sepanjang kuartal I kemarin.
Ambil contoh, kampanye media sosial terkait penggunaan gula rafinasi yang berdampak obesitas. Selain itu, terdapat pula anggapan bahwa minumam kopi kemasan hanya menggunakan sedikit unsur kopi.
"Banyak isu-isu yang beredar dan perlu dikaji aspek ilmiahnya. Tentu saja, persepsi seperti ini sangat memengaruhi tingkah laku konsumen," jelasnya.
Dengan demikian, ia masih khawatir, pertumbuhan industri hingga akhir tahun nanti akan melanjutkan tren penurunan dan sulit kembali ke angka pertumbuhan dua digit seperti tahun 2010 silam.
Sebagai informasi, pertumbuhan industri minuman ringan sempat memuncak pada 2009 dengan angka 15,44 persen. Lalu, angka itu menurun ke posisi 10,91 persen satu tahun setelahnya dan 9,56 persen pada 2011. Angkanya terus menciut hingga 7,5 persen pada akhir tahun lalu.
Makanya, ia meminta pemerintah agar tidak mengimplementasikan kebijakan yang berdampak buruk bagi konsumsi masyarakat, seperti wacana pengenaan cukai bagi minuman berpemanis.
"Kami akan analisa kembali faktor apalagi yang menekan angka pertumbuhan ini. Karena pasti yang menyebabkan penurunan pertumbuhan ini multifaktor," pungkasnya.