Salah satu faktor yang menggerogoti sektor tambang adalah penurunan Purchasing Manager's Index (PMI) sektor manufaktur China pada April ke level 51,2 dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 51,8.
Setelah data PMI manufaktur di China tersebut terbit, pelaku pasar mulai berspekulasi terhadap pertumbuhan ekonomi China yang diperediksi melambat pada bulan ini. Apabila hal itu terjadi, maka akan memengaruhi tingkat permintaan batu bara dari China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pernyataan pejabat The Federal Reserve (Fed) yang optimis dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) akan membaik memengaruhi penguatan dolar AS turut menjadi sentimen negatif bagi indeks sektor tambang.
"Itu kan membuat dolar AS menguat, komoditas kan diperdagangkan dengan dollar AS. Kalau mata uangnya meningkat, maka harga komoditasnya (batu bara) akan turun," imbuh Hans.
Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra menyebutkan, harga batu bara pada perdagangan akhir pekan lalu sekitar US$75 per metrik ton hingga US$78 per metrik ton. Pelemahan harga komoditas batu bara ini juga mendorong sebagian pelaku pasar menjual asetnya di emiten batu bara.
"Harga batu bara dibawah US$80 per metrik ton, itu agak negatif untuk emiten batu bara," tegas Aditya.
Dengan demikian, pelaku pasar melakukan perpindahan aset ke saham emiten lain yang dinilai lebih menguntungkan, misalnya ke sektor barang dan konsumsi memanfaatkan momentum jelang ramadan dan lebaran.
"Ada perubahan portofolio investasi juga. Kebetulan jelang ramadan ini biasanya ada permintaan lebih untuk sektor barang dan konsumsi jadi penjualan meningkat," tutur dia.
Aditya berpendapat, sektor batu bara memang tidak memiliki sentimen positif sepanjang pekan lalu. Sehingga, pelaku pasar enggan melakukan aksi beli terhadap emiten batu bara.
Sektor Tambang Berpeluang Rebound
Kendati terperosok dalam, Hans menilai, pelemahan harga saham emiten batu bara hanya bersifat jangka pendek.
Terlebih lagi, janji Presiden AS Donald Trump yang akan meningkatkan penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik juga akan menjadi sentimen positif tambahan bagi sektor batu bara.
"Jadi, ini bagus, saat ada kekhawatiran pertumbuhan ekonomi Tiongkok menurun," imbuh Hans.
Bahkan, ia memberikan rekomendasi beli (buy) untuk emiten batu bara pada pekan ini. Menurutnya, pelaku pasar perlu memanfaatkan momentum pelemahan harga saham emiten batu bara untuk melakukan akumulasi beli.
"Direkomendasikan beli bila ada pelemahan harga saham," katanya.
Artinya, indeks sektor konsumsi dan barang berpeluang melanjutkan penguatannya pada pekan ini. Sekadar informasi, indeks sektor barang dan konsumsi menjadi primadona pada perdagangan pasar modal sepanjang pekan lalu dengan penguatan 2,05 persen ke level 2.483,574.
"Harga saham Ramayana Lestari, Indofood CBP, dan Unilever Indonesia naik pekan lalu dan akan terus naik pekan ini," pungkasnya.