Kepala BKPM Thomas Lembong mengaku, penawaran investasi melalui pendekatan proyek yang selama ini dijalankan pemerintah ternyata keliru. Pasalnya, langkah tersebut membuat pemerintah tidak fokus mengawal realisasi investasi masing-masing proyeknya.
"Sekarang dalam menarik investasi, kita sering terpecah antar sektor. Misalnya proyek energi sendiri, transportasi sendiri. Keterpaduan ini yang dibutuhkan. Kalau ditawarkan per proyek, nantinya kurang fokus realisasinya," jelas Thomas, Rabu (10/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Indonesia juga dapat mencontoh Malaysia Iskandar Development Project (MIDP), dimana seluruh proyek di dalamnya, yang berjumlah 60 proyek saling berkaitan satu sama lain. Proyek properti raksasa bernama Forest City di kawasan tersebut misalnya, akan diintegrasikan dengan kereta cepat Singapura-Malaysia.
Sayangnya, Thomas belum tahu lokasi-lokasi yang akan ditawarkan, karena menunggu rapat koordinasi Kementerian Koordinator bidang Perekonomian. Tetapi, sebelumnya pemerintah telah memilih delapan calon lokasi yang akan dipasarkan ke investor China tersebut.
"Hal ini perlu dikejar karena minat investasi dari China sangat tinggi sekali. KTT One Belt One Road diharapkan bisa memberikan momentum yang baik untuk segera mengadopsi pendekatan yang diperlukan dalam investasi," jelasnya.
Menurut data BKPM, Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia sepanjang tahun 2016 tercatat sebesar Rp386,4 triliun atau meningkat 8,39 persen year-on-year (yoy) dari posisi Rp365,9 triliun di tahun 2015.