Di tahap pertama, perseroan akan menerbitkan obligasi dengan jumlah pokok sebanyak-banyaknya senilai Rp3 triliun dengan jangka waktu obligasi lima tahun. Adapun indikasi kupon dipatok dalam kisaran 8 persen-8,8 persen per tahun.
Obligasi yang akan ditawarkan Badan Usaha Milik Negara tersebut telah memperoleh hasil pemeringkatan AA+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Keuangan Semen Indonesia Darmawan Junaidi mengatakan nantinya dana sebanyak Rp1,37 triliun akan digunakan untuk pembiayaan kembali (refinancing) utang kredit sindikasi anak perusahaan yakni PT Semen Tonasa.
"Modal kerja itu tidak hanya untuk pabrik semen saja tapi juga untuk anak usaha, dalam rangka mempertajam usaha Semen Indonesia grup," ujarnya.
Tahun ini menurutnya perseroan juga tengah merencakaan penerbitan obligasi tahap ke dua sebesar Rp2 triliun yang akan dilakukan pada semester II mendatang. Di samping itu ia menerangkan perseroan tidak memiliki kebutuhan untuk menerbitkan obligasi berdenominasi valuta asing (global bond).
"Kemudian kita masih rencanakan strategi di 2018 dengan melihat perkembangan yang terjadi," ujarnya.
Dalam aksi korporasi ini, perseroan menunjuk PT Bahana Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Saat ini perseroan telah memiliki empat pabrik yang terdapat di empat lokasi yaitu Pabrik Tuban di Jawa Timur, Pabrik Indarung di Sumatera Barat, Pabrik Tonasa di Sulawesi Selatan, dan Pabrik TLCC di Quang Ninh Province, Vietnam.
Selain itu perseroan juga akan menyelesaikan pembangunan proyek waste heat recovery power generation di Tuban yang dapat menghasilkan listrik kurang lebuh 30,6 mega watt dan mengurangi enisi gas karbondioksida sebesar 122.358 ton per tahun, serta dapat menghemat biaya operasional listrik sebesar Rp12 miliar per tahun.