"Menurut saya, tidak perlu terlalu khawatir dengan S&P. Saya tidak melihat S&P sebagai salah satu yang benar-benar diperhatikan oleh investor asing," ujarnya, Selasa (16/5).
Pasalnya, menurut Aviliani, Indonesia masih memiliki sejumlah celah untuk menggaet investasi tanpa iming-iming peringkat layak investasi. Hal ini terlihat dari proyek-proyek yang dianggap masih menjanjikan untuk mendapatkan suntikan dana segar dari investor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ada peristiwa di Indonesia itu sebentar, tidak berkepanjangan dan tidak anarkis, seperti di negara- negara lain yang sedang ramai sekarang. Pilkada, misalnya, kita dianggap tidak separah negara lain," kata Aviliani.
Tebar Jaring Investasi
Di luar menanti kenaikan peringkat kelayakan investasi dari S&P, Aviliani menuturkan, hal yang perlu segera dilakukan pemerintah adalah menebar jaring investasi ke berbagai negara. Dengan kata lain, Indonesia tidak menggantungkan suntikan investasi dari satu atau beberapa negara yang langganan memberikan dana segar saja.
Hal ini, lanjut Aviliani, perlu dilakukan pemerintah. Sebab, apabila Indonesia hanya mementingkan aliran investasi dari satu atau beberapa negara besar saja, aliran investasi justru terbatas dan skema pemberian dana juga tidak bervariasi.
Adapun, untuk negara-negara yang bisa dibidik untuk ditingkatkan suntikan investasinya ke Indonesia, yakni negara-negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah. Hanya saja, Indonesia harus siap mengikuti penawaran yang diberikan oleh negara-negara tersebut.
Sementara, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), tiga negara terbesar yang rajin memberikan investasi ke Tanah Air, yakni Singapura, Jepang, dan China.