Namun, harga kemudian melemah tipis pasca perdagangan setelah adanya laporan American Petroleum Institute (API) tentang peningkatan persediaan minyak dan produk distilasi.
Dikutip dari Reuters, API melaporkan persediaan minyak mentah AS meningkat 882 ribu barel pada pekan lalu. Angka tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan analis yang meramalkan penurunan persedian minyak sebesar 2,4 juta barel di periode yang sama. Selain itu, produk distilasi juga meningkat 1,8 juta barel, padahal analis meramal penurunan persediaan sampai 1,1 juta barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, harga Brent berjangka melemah US$0,6 per barel ke angka US$51,22 per barel pasca perdagangan. Padahal, harga Brent sebelumnya ditutup menguat US$0,17 per barel ke angka US$51,65 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) turun US$0,58 per barel ke angka US$48,66 per barel.
Pemangku kebijakan di Kuwait, Irak, Iran, dan Venezuela menyuarakan perpanjangan pembatasan produksi. Pertemuan untuk menentukan kebijakan ini akan dilaksanakan pada 25 Mei 2017 mendatang.
Menteri Energi Rusia Alexander Novak menuturkan, perpanjangan pengurangan produksi dilakukan agar persediaan minyak komersial bisa melandai, sehingga pasar menjadi stabil. Hal itu didukung oleh International Energy Agency yang mengatakan bahwa pasar minyak dunia tengah mengalami keseimbangan ulang meski masih belum ada dampak signifikan terhadap persediaan minyak.