Riset Mandiri Sekuritas menyatakan, penurunan EBITDA ini disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan untuk menyesuaikan harga minyak ritel pada bisnis hilir.
"Perusahaan menyatakan bahwa harga ritel Premium berada 5 persen hingga 10 persen di bawah harga keekonomian akibat harga minyak yang menanjak," ujar analis Mandiri Sekuritas, Bob Setiadi, dikutip Rabu (17/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati harga minyak menekan sisi hilir perusahaan, nyatanya itu mampu mengangkat kinerja hulu Pertamina. Perusahaan mencatat kenaikan penjualan dari US$8,55 miliar di kuartal I tahun lalu ke angka US$10,15 miliar di tahun ini. Hal itu disebabkan karena harga minyak naik dari US$30 barel per hari di kuartal I tahun lalu ke US$51 barel per hari.
Menurutnya, angka-angka tersebut sudah benar, dan akan disampaikan dalam bentuk public expose pada pekan depan.
"Nanti akan kita sampaikan pada pekan depan. Kemarin baru teleconference saja," jelas Adiatma kepada CNNIndonesia.com di sela-sela IPA Convex 2017, Rabu (17/5).