Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam tidak merinci nama-nama perusahaan serta blok-blok migas yang diminati calon mitra tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa Pertamina sangat membuka peluang untuk menjalin mitra di dalam mengoperasikan delapan blok yang dimaksud.
"Hingga hari ini, saya menemukan ada tiga perusahaan yang berminat menjadi mitra Pertamina di dalam pengelolaan blok-blok penugasan pemerintah," jelas Syamsu di sela-sela Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex 2017, Kamis (18/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, Pertamina tidak bisa menjalankan blok-blok penugasan secara swadaya karena kontraknya menggunakan sistem baru, yaitu kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) Gross Split dan ada pembebanan investasi tambahan melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 26 Tahun 2017.
"Terlalu susah jika kami mengerjakannya sendiri, maka kami merasa belum siap harus mengelola delapan blok secara mandiri. Menurut kalkulasi kami, tentu saja kami butuh mitra. Pertama kami tawarkan ke kontraktor sebelumnya, lalu cari mitra dengan skema B-to-B," papar Syamsu.
Menurutnya, mengelola delapan blok terbilang sulit di tengah kondisi harga minyak yang masih kurang baik. Sehingga, di sisi hulu migas, perusahaan fokus untuk melakukan efisiensi biaya operasional.
Syamsu mengatakan, efisiensi itu bisa saja dilakukan jika Pertamina hanya melanjutkan pengelolaan blok Offshore North West Java (ONWJ) saja.
Namun, setelah mendapatkan penugasan untuk delapan blok baru ini, Pertamina perlu pikir panjang untuk menentukan biaya investasi yang sekiranya tidak membuat kantong perseroan jebol.
Maka dari itu, Pertamina meminta tambahan waktu kepada pemerintah untuk menghitung keekonomian blok-blok migas ini sebelum melangkah ke penandatangan PSC baru.
"Saya kira kalkulasi ini masih challenging, makanya kami minta tambahan waktu satu bulan ke pemerintah untuk mengevaluasi keekonomian blok migas," lanjut Syamsu.
Dari delapan blok migas tersebut, lima diantaranya merupakan peralihan dari kontraktor yang berbeda. WK migas itu terdiri dari blok Sanga-Sanga yang dioperatori Virginia Indonesia Co LLC, blok South East Sumatera yang dioperatori CNOOC SES Ltd, blok Tengah oleh Total E&P Indonesie, blok East Kalimantan yang dioperatori Chevron Indonesia Company, dan blok Attaka yang sebelumnya dioperatori Inpex Corporation.
Sementara itu, tiga blok lain yang terdiri dari blok North Sumatera Offshore (NSO) dan dua blok berbentuk Joint Operating Body (JOB) Tuban dan Ogan Komering sebelumnya sudah dikerjakan oleh Pertamina.