Gubernur BI Agus Martowardojo mengaku, mengapresiasi penyesuaian harga BBM sebagai bentuk reformasi energi. Kendati demikian, ia menyarankan, pemerintah perlu berhati-hati dalam mengatur jadwal penyesuaian harga BBM.
Lihat juga:BI Ramal Inflasi Mei Dikisaran 0,4 Persen |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun, hingga minggu ketiga Mei, komponen volatile food menekan inflasi bulanan yang diprediksi mencapai 0,37 persen. Ini disebabkan karena pasokan bawang merah, bawang putih, telur, dan daging ayam yang dianggap kurang lancar.
Meski begitu, ia menuturkan, tekanan inflasi dari administered price sepanjang empat bulan pertama di 2017 ini masih bisa dijaga dengan baik. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahun kalender (year to date) tercatat 1,28 persen, meski inflasi administered price tercatat 4,86 persen.
"Sejauh ini, dampak dari administered prices akibat perubahan tarif listrik 900 Volt Ampere (VA) masih dapat ditangani dengan baik," jelas Agus.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menginginkan perubahan harga BBM jenis premium dan solar apabila harga minyak dunia tak kunjung turun dari level US$50 per barel. Pasalnya, harga premium dan solar saat ini yang masing-masing sebesar Rp6.450 per liter dan Rp5.150 per liter baru akan ekonomis jika harga minyak US$40 per barel.
Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar enggan mengomentari perubahan BBM penugasan pada semester II mendatang. "Kalau harga BBM di bawah formulasi Pertamina, ya mau bagaimana?" katanya.
Hingga bulan April 2017, inflasi dari sisi energi tercatat 7,85 persen secara year to date. Sementara itu, jika dilihat secara tahunan (year on year), komponen inflasi energi mencapai 10,7 persen.