Indonesia sendiri cukup lama menunggu disematkannya peringkat layak investasi oleh S&P. Pasalnya, peringkat tersebut menjadi pelengkap penilaian dua lembaga pemeringkat internasional lainnya, yakni Moody's dan Fitch yang jauh lebih dulu menyematkan predikat layak investasi kepada Indonesia.
"Saya melihat bahwa investment grade itu adalah penegasan bahwa Indonesia memang layak investasi. Kami perkirakan dalam enam bulan sampai 1,5 tahun ke depan akan membuat foreign direct investment akan meningkat," tutur Gubernur BI Agus DW Martowardojo di Gedung Thamrin BI, Senin (29/5) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus berharap investasi langsung dari asing tersebut dapat diarahkan pemerintah ke sektor-sektor industri yang strategis. Industri tersebut menurut dia, antara lain, yang berorientasi pada ekspor, industri yang selama ini belum digarap di Indonesia, serta industri yang membuka kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat.
"Meski ada sentimen dolar AS menguat, namun sampai saat ini Rupiah year to date masih mengalami penguatan 1,2 persen," kata Agus.
Selain itu, pelaku usaha dunia juga mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan AS yang diperkirakan akan terjadi sebanyak tiga kali, masing-masing, pada tahun ini dan tahun depan. Kebijakan ini berpotensi memperkuat nilai tukar dolar AS ke depan.