Dikutip dari Reuters, persediaan minyak mentah AS meningkat 3,3 juta barel ke angka 513 juta barel sesuai data Energy Information Administration (EIA) AS. Hal itu membingungkan analis yang sebelumnya memprediksi persediaan minyak akan turun 3,5 juta barel.
Persediaan bensin juga meningkat secara tak terduga. Selain itu, laporan EIA juga menunjukkan impor yang naik dan ekspor yang turun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga bensin berjangka turun 4 persen ke angka US$1,49 per galon, di mana angka ini merupakan yang terendah sejak 10 Mei silam. Hal ini membuat cemas pelaku pasar, karena peningkatan persediaan bensin disertai dengan penurunan permintaannya.
Pelaku pasar juga masih mewanti-wanti dampak pemutusan hubungan diplomatik Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk memutus hubungan diplomatik dengan Qatar, mengingat ketiganya merupakan anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).
Bahkan, Qatar sendiri berencana memangkas produksi 30 ribu barel per hari sebagai bagian dari kebijakan pembatasan produksi OPEC. Beberapa analis mengatakan, ketegangan ini bisa melemahkan kebijakan pemangkasan produksi.
Selain itu, beberapa analis juga khawatir akan kenaikan produksi dari Libya dan Nigeria yang dikecualikan dari kebijakan pemotongan produksi. Pasalnya, Royal Dutch Shell sudah mengangkat status kahar (force majeure) untuk ekspor dari lapangan Forcados di Nigeria.