PLN Siap Aliri Listrik 300 MW ke Kompleks Industri Masela

Galih Gumelar , CNN Indonesia | Senin, 12/06/2017 12:21 WIB
PLN Siap Aliri Listrik 300 MW ke Kompleks Industri Masela Listrik tersebut akan dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) yang dikerjakan swadaya oleh PLN atau IPP. (Dok. PLN).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT PLN (Persero) siap mengalirkan listrik berkekuatan 300 megawatt (MW) ke kompleks industri petrokimia yang akan dibangun di dekat kilang gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) Masela.

Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso mengungkapkan, listrik tersebut akan dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU). Adapun, PLTGU tersebut akan dikerjakan swadaya oleh perusahaan setrum pelat merah itu atawa pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/IPP).

"Sementara, industrinya membutuhkan listrik 300 MW yang sesuai dengan rekomendasi Kementerian Perindustrian. Kalau industri beroperasi, biasanya mereka akan jadi baseload," ungkap Iwan ditemui di Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman, Senin (12/6).

Lebih lanjut ia mengatakan, pembangkit tersebut setidaknya akan menyerap gas sebesar 60 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dari produksi total gas pipa Blok Masela. Meski begitu, PLN belum tahu besaran listrik yang sedianya bakal dikonsumsi untuk kilang LNG Masela.

Rencananya, pembangkit ini juga akan dimasukkan ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Usaha Tenaga Listrik (RUPTL) edisi mendatang. Namun demikian, ia belum tahu kapan pembangkit ini akan beroperasi. Adapun, pembangkit ini baru bisa jalan jika gas dari blok Masela sudah bisa onstream.

"Mungkin tahun 2023 ya. Tetapi, bergantung juga kapan selesainya saja, nanti disinkronkan," katanya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, sejauh ini industri yang menyerap gas Masela masih tiga perusahaan, yakni PT Pupuk Indonesia (Persero) yang rencananya memproduksi urea, PT Kaltim Methanol Industry yang memproduksi metanol, dan PT Elsoro Multi Pratama yang memproduksi dimethyl ether.

Diharapkan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak terburu-buru menyuruh kontraktor Masela, Inpex Corporation, untuk melakukan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan ketiga perusahaan tersebut. Pasalnya, industri masih menunggu harga gas yang ditawarkan serta lokasi kilang LNG yang akan dibangun.

"Kami sudah sampaikan di rapat tingkat Kementerian Koordinator, lebih baik dibicarakan dulu soal harga gas baru bicara PJBG," imbuh Iwan.

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar berharap PJBG antara Inpex dengan industri calon penyerap gas Masela bisa dilakukan dalam waktu cepat agar Inpex bisa segera melakukan kajian awal konfigurasi kilang atau yang biasa disebut Preliminary Front End Engineering Design (Pre FEED). Kalau pembeli gas sudah ada, maka kapasitas final kilang LNG bisa ditentukan.

Jika gas pipa bisa diserap sebanyak 474 MMSCFD, maka kilang LNG Masela diharapkan memiliki kapasitas 7,5 million ton per annum (MTPA). Sementara itu, jika penyerapan gas pipa tak mencapai angka yang dimaksud, maka kilang LNG Masela akan dibangun dengan kapasitas 9,5 MTPA.

"Inpex tinggal bilang saja, kapan mau mulai proses Pre FEED. Lalu, kami akan cari pembelinya. Kami harap, PJBG bisa dilakukan tiga bulan sebelum mereka memulai pre FEED," pungkas Arcandra.