Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan aset yang ditawarkan oleh pelaku industri ekonomi kreatif selama ini bersifat tidak terlihat (un-tangible) sehingga perbankan kesulitan untuk mengukur risiko.
"Kesulitan tersebut karena perbankan tidak familiar dengan seluk beluk industri kreatf yang berbeda dengan industri pada umumnya, karena dalam industri kreatif aset yang produktif adalah tak berwujud sehingga bank sulit memitigasi," ujar Triawan di kantor Bekraf, Senin (12/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun kerjasama antara Bekraf dengan BNI dan BRI mencakup pemberian layanan, fasilitas kredit, serta penunjang peningkatan produktivitas usaha dan kesejahteraan pelaku ekonomi kreatif jaringan Bekraf.
"Kalau kita bicara perbankan sebetulnya bank juga sudah lama membiayai atau memberikan kredit untuk ekonomi kreatif terutama untuk sub sektor yang mereka sudah familiar, yaitu kuliner, fesyen, dan kerajinan. Itu mereka sudah sangat biasa," ujar Restog.
Pada kesempatan yang sama Direktur Kelembagaan BRI Sis Apik Wijayanto mengatakan, risiko kredit yang dimiliki oleh industri kreatif memang cukup tinggi. Namun, hal tersebut menurut dia, tidak menghalangi niat perseroan untuk memperluas pemberian kredit ke sektor ini terutama melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"Kalau lihat pengalaman BRI dalam menangani pembiayaan-pembiayaan kecil dan menengah itu relatif sama. Jadi kami optimis dengan sektor ini," jelasnya.
BRI mencatat hingga Mei 2017 pinjaman ke sektor industri kreatif telah mencapai Rp74 triliun atau 10 persen dari total portfolio kredit perseroan.