Lihatlah, alih-alih terperosok, Data Bursa Efek Indonesia (BEI) justru menunjukkan indeks sektor keuangan memimpin laju indeks sektoral. Indeks sektor keuangan menguat 1,36 persen ke level 927,634. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya yang sempat terkoreksi cukup dalam, yakni 1,44 persen.
Saham sektor perbankan sempat terkoreksi karena anjloknya nilai tukar rupiah. Namun, nilai tukar rupiah malah berotot satu hari jelang pengumuman kenaikan suku bunga The Fed. Tengok saja, nilai tukar rupiah menguat 14 poin (0,11 persen) menjadi Rp13.277 per dolar AS pada Rabu, 14 Juni lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilustrasi papan saham bursa. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono). |
Menurutnya, kenaikan sektor keuangan didorong oleh kenaikan harga saham empat emiten perbankan, terutama emiten dengan kapitalisasi besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Di sisi lain, Analis Binaartha Securities Muhammad Nafan Aji Gustama menjelaskan, sentimen positif lainnya yang mendorong harga saham emiten perbankan, yaitu Moody's mengerek peringkat industri perbankan Indonesia menjadi positif dari sebelumnya stabil.
Dalam keterangan resminya, Moody's mengerek prospek sistem perbankan Indonesia. Hal itu didasari oleh lima faktor, di antaranya lingkungan operasional, kualitas aset dan modal, pendanaan dan likuiditas, profitabilitas dan efisiensi, serta dukungan sistemik.
"Kemudian, secara makro, kondisi fundamental ekonomi dalam negeri yang stabil menciptakan kondisi yang kondusif dalam dunia investasi, khususnya di bidang pasar modal," ungkap Nafan.
Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra mengatakan bahwa beberapa saham emiten perbankan yang memiliki nilai kapitalisasi kecil (small caps) juga ikut berkontribusi untuk kenaikan indeks sektor keuangan sepanjang pekan lalu.
Aditya mengungkapkan, beberapa bank BUKU I yang disebut-sebut menjadi target BCA dalam melaksanakan aksi korporasinya, yaitu PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI), PT Bank Agris Tbk (AGRS), dan PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO).
"Isunya memang sudah dari tahun-tahun lalu, tapi kini lebih mengerucut nilai akuisisi sekitar Rp3 triliun, dan jenis perbankan yang mau disasar. Pergerakan bank BUKU I atau II sangat bagus sekali karena itu," imbuhnya.
Tak main-main, kenaikannya dalam sepekan bahkan berlipat-lipat jika dibandingkan dengan kenaikan harga saham emiten perbankan berkapitalisasi besar yang sebelumnya disebutkan.
Bila dirinci, Bank Agris naik tajam hingga 64,54 persen ke level Rp362 per saham. Diikuti oleh Bank Harda yang meningkat 19,69 persen di level Rp316 per saham dan Bank Artos naik 8,88 persen ke level Rp196 per saham.
"Tahun lalu, ketiga bank itu pergerakannya biasa saja, cenderung stagnan," terang Aditya.
Saham Perbankan Berbalik Arah
Kendati naik daun di pekan lalu, harga saham sektor perbankan yang meroket di sepanjang pekan lalu diprediksi tidak akan terulang lagi pada pekan ini. Soalnya, beberapa pergerakan harga saham secara teknikal sudah menunjukan arah negatif.
"Misalnya, BCA sudah ada sinyal aksi ambil untung (profit taking). Kemudian, BNI juga sudah ada sinyal koreksi. Secara teknikal, secara keseluruhan, akan terkoreksi," kata Toufan.
Terlebih lagi, beberapa harga saham perbankan sudah mahal bila dilihat secara Price Earning Ratio (PER). Rata-rata PER emiten perbankan berada di level 12,7 kali. Namun, untuk Bank Mandiri dan BCA sudah berada diatas rata-rata, yakni masing-masing 17,8 kali dan 22 kali. Sementara, BNI sebesar 9,39 kali atau dibawah rata-rata.
Adapun, rata-rata PBV untuk emiten perbankan berada di level 1,45 kali. Untuk BNI masih dibawah rata-rata, yaitu 1,39 kali. Sementara, sisanya berada diatas rata-rata. Misalnya, Bank Mandiri sebesar 1,9 kali, BRI 2,5 kali, dan BCA 3,72 kali.
"Tapi, dua faktor itu tidak selalu jadi faktor pelaku pasar masuk ke saham yang diincar, kalau memang menarik meski PE atau PBV mahal pelaku pasar bisa tetap masuk," jelasnya.
Ambil contoh, saham BCA yang masih menarik bagi beberapa pelaku pasar karena didukung dari segi fundamental perusahaan. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perusahaan terbilang paling kecil jika dibandingkan dengan BNI, Bank Mandiri, dan BRI.
Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, NPL BCA berada di level 1,5 persen. Sementara, NPL gross Bank Mandiri sebesar 3,98 persen. Kemudian, BNI sebesar 3 persen dan BRI 2,16 persen.
Aditya menilai, beberapa saham perbankan masih akan menarik karena adanya sentimen investment grade dari S&P yang masih terasa dan berpengaruh terhadap investasi di Indonesia. Menurutnya, indeks sektor perbankan berpeluang bertahan pada kisaran level seperti pekan lalu.
Kendati demikian, hal ini tidak berlaku bagi tiga emiten perbankan yang juga tercatat naik karena dipengaruhi berita rencana akuisisi BCA. Menurutnya, kenaikan harga saham Bank Harda, Bank Agris, dan Bank Artos hanya berdasarkan spekulasi semata.
Menurut dia, ketiga saham tersebut terbilang tidak terlalu likuid dan secara fundamental dinilai tidak cukup baik. Terlebih lagi, secara valuasi harga sahamnya lebih mahal dari harga wajar.
"PBV Bank Agris di level 1,87 kali, Bank Harda 1,74 kali, kemudian Bank Artos 1,35 kali," pungkas Aditya.
Ilustrasi papan saham bursa. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).