Direktur Strategis dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) Scenaider Siahaan mengatakan, pinjaman tersebut akan dicari dari lembaga keuangan multilateral, seperti Asian Development Bank (ADB), Bank Dunia, dan KFW Jerman.
"Pinjaman kami usulkan naik. Pinjaman luar negeri ya, untuk isi (nanti) sebagian dari ADB juga ada. Saya lupa persisnya, yang teridentifikasi sekarang sekitar US$500-an juta, tapi nanti kami coba cari sampai US$1 miliar," ujar Scenaider, Rabu (21/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Scenaider menjelaskan, rencana penambahan pinjaman tersebut akan diusulkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017. Sesuai jadwal, APBN-P rencananya akan disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada pertengahan Juli mendatang.
Penambahan porsi SBN valas tersebut nantinya akan dioptimalkan pada saat penerbitan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi euro (euro bond) pada Juli mendatang.
"Ya bisa maksimal sampai 30 persen. Sekarang kan kami melihat harus dioptimalkan. Kalau nanti bisa kita upsize di 30 persen ya maksimal lah, tapi tetap kami maintain," ujarnya.
Seperti diketahui, dalam APBN 2017 pemerintah menargetkan penerbitan SBN bruto sebesar Rp 684,83 triliun. Adapun realisasinya hingga akhir April 2017 lalu mencapai Rp 308,43 triliun atau 54,04 persen dari target.