"Setiap malam, saya selalu berpikir. Bagaimana melakukan tugas konstitusi tapi rakyat percaya kalau apa yang dilakukannya bagus untuk negara. Bagaimana caranya meyakinkan masyarakat untuk bayar pajak. Memang bayar pajak itu tidak nyaman, tapi ini demi kepentingan bersama," ujar Sri Mulyani di Congress of Indonesian Diaspora, Sabtu (1/7).
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menuturkan, tugas itu dirasa berat mengingat selama ini masyarakat kerap mengasosiasikan pajak dengan tindakan rasuah. Padahal menurutnya, jika masyarakat tak bayar pajak, maka tak ada lagi yang bisa menopang penerimaan negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat besarnya kontribusi pajak bagi penerimaan negara, ia menilai anggapan masyarakat dalam membayar pajak harus dibenahi.
Ia melanjutkan, uang pajak itu sedianya pasti digunakan untuk membangun sumber daya manusia di seluruh Indonesia, utamanya dari segi pendidikan dan kesehatan. Menurutnya, dua aspek tersebut merupakan modal utama bagi Indonesia agar lepas landas menjadi negara maju.
"Di manapun Anda lahir, di Jawa, Aceh, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, mereka harus punya hak untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang baik. Memikirkan ini saya tidak bisa tidur, bagaimana bisa mewujudkan hal itu," katanya.
Demi mewujudkan hal itu, ia siap menjadi seorang menteri yang dipandang tidak populer. "Kami harus collect tax ini tentu bukan hal yang populer. Kalau Menteri yang populer, ya tidak akan pungut semuanya," pungkasnya.