Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana menuturkan, minimnya penyerapan ini dikarenakan target yang terlampau optimistis.
Pasalnya, target itu juga memasukkan perkiraan permintaan dari pelaksanaan mandatori pencampuran biodiesel sebanyak 20 persen (B-20) bagi Solar non-subsidi (non-Public Service Obligation/non-PSO), yang seharusnya dimulai sejak awal tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebernarnya alasannya cukup klise, karena penyerapan sukses di tahun lalu, kami mau rambah mandatori B-20 bagi non-PSO. Tapi ujungnya, semua payung hukum diubah karena Perpres yang ada masih terbatas bagi Solar bersubsidi. Tapi kenyataannya, sekarang ada delay. Sampai saat ini Perpres belum muncul," ujar Rida di Kementerian ESDM, Jumat (7/7).
"Katanya masih review mengenai Perpres tersebut," imbuhnya.
Dari data Kementerian ESDM, penyerapan semester I tahun ini sebesar 1,18 juta kl terbilang menurun 1,67 persen dibanding tahun kemarin 1,20 juta kl.
Melemahnya penyerapan ini disebabkan karena tingginya harga minyak dunia masih rendah, sehingga disparitas harga biodiesel dan harga minyak dunia semakin jauh.
"Mudah-mudahan tidak jauh dari target yang ditetapkan," paparnya.
Sebagai informasi, target penyerapan Bahan Bakar Nabati di tahun ini tercatat 4,6 juta kl. Adapun, pada awalnya, penyerapan Bahan Bakar Nabati tahun ini tadinya dipatok 2,2 juta kl. Target ini terbilang melonjak 26,03 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya 3,65 juta ton. (gir)