Sepanjang tahun lalu, realisasi investasi Spanyol di Tanah Air tercatat turun sekitar 11,5 persen, yaitu dari US$56,6 juta pada 2015 menjadi hanya US$50,0 juta. Padahal, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai realisasi Foreign Direct Investment (FDI) Spanyol ke Indonesia pada 2012 cuma US$3,1 juta, melesat mencapai US$56,6 pada 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehingga, pemerintah setempat menerapkan kebijakan pengetatan anggaran yang berdampak pada sulitnya menciptakan lapangan pekerjaan. Akhirnya, Pemerintah Spanyol mendorong perusahaan-perusahaan untuk mencari mitra di negara-negara potensial, seperti kawasan Timur Tengah dan Asia yang sukses mencapai pertumbuhan ekonomi di atas empat persen per tahun.
Kemudian, Spanyol mengadopsi kebijakan Look East Policy yang diperkuat dengan penyediaan dana lunak sebesar US$450 juta bagi perusahaan menengah Spanyol yang akan ekspansi ke Asia. Sayangnya, kebijakan itu hanya bergigi hingga 2015 lalu. Banco de Espana melansir, total investasi Spanyol ke dunia pada 2015 mencapai 40,11 juta euro. Namun, turun menjadi 37,77 juta euro pada akhir tahun lalu.
KBRI Madrid mengaku ikut meminta perhatian BKPM dan Pemerintah Spanyol untuk melakukan perpanjangan dokumen kesepakatan kedua negara, agar peluang yang tersedia di Indonesia lebih menari bagi pelaku bisnis Spanyol.
Asal tahu saja, Spanyol merupakan negara ke-6 terbesar di Uni Eropa yang menjadi sumber investasi asing. Setelah penerapan kebijakan Look East Policy pada 2013 lalu, sedikitnya dua per tiga total belanja 35 perusahaan kelas kakap Spanyol mengalir ke luar negeri.
Perusahaan-perusahaan konstruksi Spanyol juga sangat berpengalaman dalam mega proyek, seperti perluasan Terusan Panama, Terusan Sues, dan jalur kereta api cepat Mekkah - Medinah.