Direktur Pemasaran Krakatau Steel Purwono Widodo mengatakan, KOS mulai beroperasi di bulan Juli sementara pabrik KNSS akan beroperasi di bulan Agustus mendatang. Bahkan menurutnya, KNSS saat ini sudah melakukan uji coba produksi.
"Secara soft sudah uji coba, peresmiannya kami akan cari tanggalnya. Mungkin di bulan Juli atau Agustus mendatang," papar Purwono di Kementerian Perindustrian, Senin (10/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, proyek KNSS dibangun bersama perusahaan asal negeri sakura lainnya, Nippon Steel Metal Corporation. Adapun, KNSS nantinya bisa memproduksi baja galvanis untuk bahan baku baja gulungan dingin (Cold Rolled Coil/CRC) sebanyak 500 ribu ton per tahunnya.
Setelah merampungkan dua proyek patungan, perusahaan juga akan fokus dalam menyelesaikan pabrik baja lembaran panas (Hot Strip Mills/HSM) ke-dua yang rencananya selesai tahun 2019 mendatang. Menurut Purwono, saat ini tingkat kemajuan proyek tersebut sudah mencapai 15 persen dan bisa selesai tepat waktu.
"Untuk proyek HSM 2 saat ini lagi bangun pondasi. Bangun pondasi ini tidak seperti bangun rumah. Saya tidak tahu berapa lama, tapi target produksi tetap di tahun 2019 mendatang," paparnya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga melakukan pembicaraan lanjutan dengan perusahaan asal Korea Selatan, Pohang Iron Steel Company (Posco) terkait kerja sama produksi baja gulungan panas (Hot Rolled Coil/HRC) dengan Krakatau Steel. Adapun, permintaan itu disampaikannya dalam lawatan ke Korea Selatan pekan lalu.
Di dalam pertemuan itu, ia menyampaikan bahwa Krakatau Steel ingin menjadi pemilik mayoritas proyek tersebut. Pasalnya, saat ini, Krakatau Steel masih mengempit 30 persen dari proyek patungan keduanya, yaitu PT Krakatau Posco.
Rencananya, Krakatau Steel akan menambah produksinya ke angka 10 juta ton di tahun 2025 mendatang. Angka ini bergerak 156,41 persen dari 3,9 juta ton di tahun 2016 silam.
Sementara itu, mengutip laporan keuangan di kuartal I, Krakatau Steel membukukan pendapatan sebesar US$350,1 juta atau naik 12,5 persen dari periode yang sama tahun lalu US$311,2 juta. Hal itu menyebabkan rugi bersih perseroan turun 65,38 persen dari US$59,8 juta ke angka US$20,7 juta.