Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja mengungkapkan, produksi gas di lapangan Jangkrik direncanakan mencapai 600 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya, yaitu 400 - 450 MMSCFD.
Dengan catatan, permintaan LNG sudah memiliki komitmen (commited demand) tidak seluruhnya berubah menjadi permintaan terkontrak (contracted demand).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi, karena megaproyek pembangkit listrik 35 ribu MW tidak seluruhnya mencapai target dua tahun ke depan, maka commited demand ini kemungkinan direvisi lebih rendah lagi. Sehingga, Indonesia tidak usah mengimpor gas di periode tersebut.
Ia menuturkan, Indonesia masih tidak akan impor pada 2020 mendatang, setelah kilang LNG Tangguh Train III milik British Petroleum (BP) Berau Ltd beroperasi. Setelahnya, kilang LNG Masela sudah bisa beroperasi pada 2025 hingga 2027. Diperkirakan kebutuhan nasional bisa tetap aman hingga 2035 mendatang.
"Setidaknya, proyeksi kami bilang lima tahun lagi Indonesia tak perlu mengimpor gas. Tidak perlu impor dari sisi volume, kalo dari sisi harga beda lagi ya ceritanya," terang dia.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa PT Pertamina (Persero) sudah memiliki kontrak pembelian LNG dengan beberapa perusahaan untuk mengamankan kebutuhan dalam negeri. Adapun, perusahaan pelat merah itu sudah melakukan kesepakatan dengan Cheniere Energy, ExxonMobil, hingga Woodside untuk membeli LNG.
Sebelumnya, pemerintah memprediksi ada defisit gas pada 2019 dikarenakan suplai domestik tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pasalnya, permintaan gas potensial, terkontrak, dan commited pada tahun itu mencapai 9.323 MMSCFD dengan suplai 7.651 MMSCFD.
Sehingga, seharusnya Indonesia membutuhkan impor gas sebesar 1.672 MMSCFD di 2019.