Sayang, pergerakan pasar modal di Indonesia lambat kala itu. Demi menghidupkan kembali dan lebih mengembangkan pasar modal, pemerintah pun menelurkan beberapa kebijakan di sektor keuangan, seperti Pakdes 1987, Pakdes 1988, dan Pakto 88.
Perkembangan pasar modal juga ditandai dengan dibukanya Bursa Efek Surabaya (BES) pada tahun 1989. Dengan demikian, ketika itu, bursa di Indonesia pun terbelah menjadi dua, yakni BEJ dan BES.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah pada 2007 kemudian memutuskan untuk menggabungkan BEJ dan BES menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) agar dapat bersaing dengan Bursa di Asia Pasifik lainnya.
Ketika itu, menurut Erry, tingkat likuiditas di pasar modal terbilang masih kecil jika dibandingkan dengan posisi saat ini. "Kami mulai dengan Rp300 miliar per hari, 2009 itu Rp2,5 triliun per hari," kata Erry, Kamis (13/7).
Adapun rata-rata nilai transaksi pasar modal per hari saat ini atau posisi Mei 2017 berada di kisaran Rp8,21 triliun.
Sementara itu, infrastruktur pasar modal pada saat itu tidak terlalu berbeda saat ini. Pasalnya, perdagangan sudah menggunakan Jakarta Automated Trading System (JATS), perdagangan tanpa warkat (C-BEST) dan otomasi kliring.
Masa jabatan Erry berakhir pada 2009. Erry digantikan oleh Ito Warsito yang selama dua periode atau hingga 2015, sebelum akhirnya digantikan oleh Tito Sulistio sampai saat ini.
Pada masa kepemimpinan Ito, jumlah investor diklaim tumbuh sekitar 160 ribu. Dengan demikian, pada akhir 2015, total investor mencapai sekitar 520 ribu.
Ito mengaku, kualitas emiten yang tercatat di BEI menjadi fokusnya selama menjabat dalam mengembangkan pasar modal. Hal ini terlihat dari jumlah emiten yang didelisting selama ini menjabat, yakni sebanyak 30 emiten.
"Fokus pada kualitas, keterbukaan informasinya, free float dan tata kelola. Apapun itu, yang tidak bagus didelisting kalau sudah bagus kembali lagi," terang Ito.
Kini, BEI memiliki sebanyak 554 perusahaan publik yang tercatat. Sayang, sudah dua tahun ini target penambahan jumlah emiten tidak pernah tembus hingga BEI terpaksa menurunkan targetnya pada tahun lalu.
Di umurnya yang sudah mencapai 25 tahun, BEI diharapkan dapat menjadi wadah bagi perusahaan rintisan (startup company) untuk mengembangkan usahanya. Sehingga, kesan elit yang selama ini tampak pada Bursa bisa menghilang secara bertahap.
"Sangat menarik kalau ada orang yang memiliki kredibilitas bagus, ide pebisnis yang bagus diberi kesempatan untuk go public," ucap Direktur Utama BEJ periode 1999-2002, Mas Achmad Daniri.