“Pasar domestik dan ekspor masih besar. Yang terpenting, untuk industri mamin juga adalah ketersediaan bahan baku sehingga mendorong investasi terus tumbuh," kata Airlangga mengutip ANTARA, Minggu (16/7).
Airlangga mengatakan, industri mamin perlu melakukan terobosan inovasi produk yang dihasilkan, sehingga dapat diminati oleh konsumen dalam negeri dan mancanegara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rangka penyiapan SDM industri yang andal, Kementerian Perindustrian berkomitmen menjalankan programnya melalui penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), pengembangan lembaga pendidikan dan pelatihan, dan pengembangan pendidikan vokasi industri.
Program ini akan kembali diluncurkan untuk wilayah Jawa Barat pada 27 Juli 2017 di Cikarang. Diharapkan, berbagai program dan kebijakan strategis bakal meningkatkan pertumbuhan industri mamin.
Maklum, sektor ini dinilai mempunyai peranan penting dalam pembangunan industri nasional, terutama kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri non-migas, di mana sumbangan subsektor industri mamin tercatat paling besar dibandingkan subsektor lainnya dengan kontribusi 32,79 persen pada kuartal I 2017.
"Pangsa pasar yang besar ini juga diikuti dengan pertumbuhan yang tinggi pula. Pertumbuhan industri mamin pada kuartal I 2017 mencapai 8,15 persen," imbuh Airlangga.
Capaian tersebut membuat neraca perdagangan yang positif apabila dibandingkan dengan impor produk makanan dan minuman pada periode yang sama sebesar US$3,98 miliar.
"Di samping itu, dapat dilihat dari perkembangan realisasi investasi sektor industri ini sampai dengan kuartal II 2016 sebesar Rp12,1 triliun untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan untuk Penanaman Modal Asing sebesar US$476,32 juta," terang Ailrangga. (bir)