"Tapi kalau dilihat dari penerimaan dan pengeluaran tidak berarti kami tidak punya kas ya. Ini angka saat Juni tutup, kan besok iuran masuk lagi," ujar Direktur Keuangan BPJS Kesehatan Kemal Imam Santoso di Jakarta, Rabu (19/7).
Hingga akhir tahun ini, Kemal pun memperkirakan, penerimaan iuran akan mencapai sekitar Rp79 triliun, sedangkan pengeluaran mencapai sekitar Rp81 triliun. Dengan demikian, BPJS Kesehatan diperkirakan masih akan mengalami defisit sekitar Rp2 triliun hingga akhir tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menambal kebutuhan dana tersebut, pemerintah telah menganggarkan dana untuk BPJS Kesehatan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (R-APBNP) 2017 sebesar Rp3,6 triliun.
"Jadi kolektibilitas selain PBPU sudah diatas rata-rata 95 persen, tapi kalau secara real kami liat kolektibilitas PBPU sekitar hampir 60 persen," jelas Kemal.
Tambah Kerja Sama dengan Bank Bukopin
Di samping memberikan akses pembayaran iuran pada masyarakat, menurut dia, BPJS Kesehatan juga terus meningkatkan akses pembayaran klaim pelayanan kesehatan. Salah satunya dilakukan dengan menggandeng Bank Bukopin dalam pembiayaan tagihan fasilitas kesehatan (faskes) mitra BPJS (supply chain financing). Kerja sama ini meliputi pemanfaatan jasa dan produk, serta layanan perbankan.
Direktur Komersial Bank Bukopin Mikrowa Kirana menjelaskan, kerja sama ini bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kepada peserta BPJS Kesehatan.
Menurutnya, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) untuk sektor kesehatan saat ini terbilang rendah atau masih dibawah 1 persen. Kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan sektor bisnis lain yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia atau harga komoditas