Berdasarkan data statistik resmi DJPPR, utang tersebut terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2.979,50 triliun atau 80,4 persen dari porsi utang dan pinjaman sebesar Rp727,02 triliun atau 19,6 persen.
Penambahan utang neto selama paruh pertama tahun ini sebesar Rp191,06 triluun terdiri dari penerbitan SBN sebesar Rp198,89 triliun dan pelunasan pinjaman sebesar Rp7,83 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang paruh pertama tahun ini, total pnerbitan (bruto) SBN tercatat mencapai Rp395,09 triliun atau mencapai 57,69 persen dari target penerbitan dalam APBN 2017. Adapun selama bulan Juni 2017, DJPPR telah melakukan lelang penerbitan SBN dengan total penerbitan (bruto) mencapai Rp48,57 triliun, sedangkan penarikan pinjaman (bruto) sebesar Rp4,76 triliun,
Sementara itu pembayaran kewajiban utang di bulan Juni 2017 mencapai sebesar Rp26,89 triliun, terdiri dari pembayaran pokok utang yang jatuh tempo sebesar Rp18,91 triliun dan pembayaran bunga utang sebesar Rp7,98 triliun.
"Pembayaran kewajiban utang merupakan komitmen pemerintah secara berkesinambungan sebagai konsekuensi pembiayaan defisit APBN tahun berjalan dan periode sebelumnya," jelas Robert.
Menurutnya, indikator risiko utang Pemerintah pada Juni 2017 masih cukup terkendali. Hal ini terlihat dari tingkat variable rate ratio yang berada level 11,2 dan refixing rate di level 19,3.
Dibanding bulan sebelumnya, rata-rata perdagangan SBN di pasar sekunder bulan Juni 2017 turun. Porsi kepemilikan oleh asing atas SBN yang dapat diperdagangkan di bulan Juni 2017 mencapai 39,47 persen. (agi)