Pada semester pertama tahun ini, penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp57,3 triliun. Penerbitan obligasi tersebut diramal mencapai Rp119,6 triliun hingga akhir tahun ini. Hingga saat ini, obligasi korporasi yang beredar di Indonesia mencapai Rp334,8 triliun.
Presiden Direktur Pefindo Salyadi Saputra menjelaskan, jumlah obligasi jatuh tempo tahun ini naik 70,66 persen dibandingkan tahun lalu. Kebanyakan obligasi yang jatuh tempo tersebut merupakan surat utang dengan tenor lima tahun yang berbondong-bondong terbit tahun 2012 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salyadi menjelaskan, emiten akan merespons kondisi tersebut dengan menerbitkan banyak obligasi di semester ini. Hingga saat ini, Pefindo mencatat masih memiliki mandat dari 25 perusahaan untuk menerbitkan obligasi dengan rencana emisi Rp37,75 triliun.
"Spread antara SUN dan dan obligasi korporasi ini juga cukup jauh, sehingga membuat obligasi koproasi lebih menarik. Kalau dilihat di obligasi dengan rating AAA, memang cukup tinggi karean risikonya juga lebih tinggi dibanding obligasi pemerintah," terang dia.
Tak hanya itu, daya serap obligasi juga didorong oleh diversifikasi sektor. Kendati sektor finansial masih mendominasi obligasi korporasi dengan porsi 70,6 persen, kini banyak perusahaan yang bergerak di sektor lain yang ikut menerbitkan obligasi dengan produk yang berbeda.
"Kalau ini bisa terealisasi, minat investor diharapkan bisa lebih tinggi. Lagipula, saat ini peran institusi finansial di dalam obligasi korporasi masih banyak yaitu 70 persen. Di negara lain, malah real sector bisa menyumbang 76 persen bagi obligasi korporasi," pungkas Salyadi.